ALAM NASUT , ALAM MALAKUT, ALAM JABARUT DAN ALAM LAHUT
Mengungkap Empat Tingkatan Alam dalam Pandangan Tasawuf.
Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Tuhan semesta alam, yang menciptakan segala sesuatu dengan hikmah dan ketentuan-Nya.
Dia menjadikan alam-alam sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar manusia mengenal kebesaran-Nya, merenungi rahasia ciptaan-Nya, dan semakin dekat kepada-Nya dengan hati yang penuh dengan keimanan.
Alam yang tampak oleh mata hanyalah sebagian kecil dari Alam ciptaan Allah.
Di baliknya masih banyak terdapat alam-alam yang lebih halus dan lebih tinggi, yang menjadi bagian dari tatanan wujud yang diciptakan oleh-Nya.
Para ulama dan ahli tasawuf menjelaskan adanya tingkatan-tingkatan alam, seperti alam Nāsūt, alam Malakūt, alam Jabarūt, dan alam Lāhūt, sebagai cara untuk memahami perjalanan makhluk dari yang zahir menuju hakikat.
Allah Ta‘ālā berfirman :
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقّ
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fuṣṣilat ayat : 53)
Mempelajari alam-alam ciptaan Allah bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi jalan untuk menumbuhkan ma‘rifat, memperdalam rasa takut dan cinta kepada Allah, serta menyadari bahwa seluruh wujud ini berada dalam genggaman dan pengaturan-Nya.
Alam Nāsūt
عَالَمُ النَّاسُوتِ
Alam Malakūt
عَالَمُ الْمَلَكُوتِ
Alam Jabarūt
عَالَمُ الْجَبَرُوتِ
Alam Lāhūt
عَالَمُ اللَّاهُوتِ
Sejak dahulu para ulama tasawuf selalu berusaha memberikan pemahaman pemahaman hakikat kehidupan kepada kita.
Bukan hanya sebatas pada apa yang tampak oleh mata saja, tetapi juga pada alam alam yang berada di balik tabir.
Semoga Allah selalu mencucurkan Rahmat nya pada Arwah mereka semua.dan menempatkan di tempat yang mulia.
Mereka para ahli tasawuf memandang bahwa wujud ini memiliki tingkatan-tingkatan, dari yang paling kasar sampai yang paling halus, dari alam syahadah (alam dunia) hingga alam yang dekat kepada kehadiran Ilahi.
Pembahasan tentang Alam Nāsūt, Malakūt, Jabarūt, dan Lāhūt bukanlah untuk membatasi kekuasaan Allah, tetapi untuk membantu manusia agar dapat memahami perjalanan ruh dan hakikat wujud yang sebenarnya , sehingga hati semakin tunduk, untuk mengenal kebesaran-Nya, dan tidak terperangkap hanya sebatas pada dunia lahir semata.
Berikut penjelasan nya :
Perlu diketahui bahwa para ulama tasawuf tidak memakai istilah-istilah ini secara sembarangan. Setiap nama memiliki akar kata dalam bahasa Arab dan isyarat dengan makna ruhani.
1. Alam Nāsūt (عَالَمُ النَّاسُوتِ)
Makna Bahasa :
Kata Nāsūt berasal dari: ناس (nās) = manusia
Nāsūt berarti = alam kemanusiaan(alam jasad)
Yaitu alam yang bercampur antara ruh dan materi jasad.
Ulama tasawuf juga menjelaskan bahwa: Alam Nāsūt adalah:
- Alam tempat ujian
- Alam sebab dan akibat
- Alam hijab (tabir)
Imam Al-Ghazali menjelaskan: Dunia adalah tempat menanam amal, bukan tempat tinggal abadi.
Jadi Isyarat Maknanya :
Alam Nāsūt adalah:
- Tempat perjalanan dimulai
- Tempat hati dibersihkan
- Tempat memilih jalan
Para ulama tasawuf berkata:
Manusia hidup di alam Nāsūt,
hatinya dapat berjalan ke Alam Malakūt,
ruh nya dapat merasakan Alam Jabarūt,
dan rahasia hati dapat mengenal Alam Lāhūt.
Perjalanan itu tentu bukanlah dengan perjalanan langkah kaki, akan tetapi dengan melakukan taubat yang benar, dzikir yang berkekalan dan keikhlasan niat dalam segala ibadah.
Allah berfirman dalam Al Qur'an:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
Artinya:
"Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun."
(QS. An-Nahl ayat : 78)
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa fase kehidupan manusia di alam jasmani.
Jadi kesimpulannya :
Alam Nāsūt adalah alam kehidupan manusia dan alam materi, yaitu alam yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan oleh pancaindra.
Alam Nasut Ini adalah disebut juga alam jasad, dunia, dan kehidupan lahir.
Alam Nasut: Alam Langit, Bumi dan Segala Isinya, maksudnya Nasut pada Diri kita yang terdiri dari (Jasad, Kulit, Daging, Otak, Urat, dan Tulang).
Alam Malakūt (عَالَمُ الْمَلَكُوتِ)
Makna Bahasa :
Kata Malakūt berasal dari: ملك (mulk) = yang artinya kerajaan. Bentuk malakūt menunjukkan makna: kerajaan yang besar.
kekuasaan yang tidak tampak.
Allah menjelaskan Dalam Al-Qur’an:
فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya:
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu.” (QS. Yasin ayat : 83)
Ayat inilah yang menjadi dasar istilah Alam Malakūt, yaitu kerajaan batin dari segala sesuatu.
Jadi Makna menurut Ulama Tasawuf
Malakūt adalah:
- Alam para malaikat, alam ruh
alam makna dan hakikat.
Ibnu ‘Arabi menjelaskan: Malakūt adalah alam yang hanya dapat dilihat dengan hati, bukan dengan mata.
Alam Malakūt adalah: disebut juga alam cahaya, alam ilham,.alam terbukanya mata hati.
Jadi kesimpulanya :Alam Malakūt adalah alam para malaikat, Alam Ruh dan alam ghaib yang lebih halus dari dunia materi.
Alam Malakut Ini juga adalah alam mimpi yang benar. Alam ini tidak terlihat oleh mata Zahir, tetapi bisa disaksikan oleh hati yang bersih.
maksudnya Malakut pada Diri kita yang terdiri dari (Hati, Akal, Nafas, Nafsu, Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Perasaan dan sebagainya).
Alam Jabarūt (عَالَمُ الْجَبَرُوتِ)
Makna Bahasa
Kata Jabarūt berasal dari: الجبار (Al-Jabbar) =artinya Yang Maha Perkasa
Jadi jabarūt bermakna:
kekuasaan mutlak, keperkasaan, kekuatan yang tidak dapat ditolak.
Makna menurut Ulama Tasawuf
Jabarūt adalah:
- alam kekuasaan Allah
- alam Takdir
- alam Rahasia Ilahi
Menurut Syaikh Abdul Karim Al-Jili: Jabarūt adalah alam sifat-sifat Ilahi dan cahaya yang agung.
Isyarat Makna : Pada kesadaran ini seseorang:
melihat kehendak Allah dalam segala sesuatu
ridha terhadap takdir, Tidak lagi bergantung pada makhluk.
Jadi Alam Jabarūt adalah alam kekuasaan dan cahaya Ilahi, lebih tinggi dari Alam Malakūt.
Alam Ini juga disebut adalah
(Alam rahasia takdir)
Dalil Al-Qur’an
لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
artinya:
"Milik-Nya penciptaan dan urusan."
(QS. Al-A’raf ayat : 54)
Jadi kesimpulannya : Alam Jabarūt adalah alam sifat-sifat Ilahi, tempat tajalli kekuasaan Allah.
alam yang tidak terikat oleh ruang dan waktu seperti dunia.
Pada maqam ini, biasanya seorang hamba akan mulai menyaksikan kebesaran Allah dalam segala kejadian.
Alam Jabarut: Alam Ghoib bagi Arsy, Lauhul Mahfudz, Surga, Neraka, dll...
maksudnya Jabarut pada Diri kita yaitu : (Ruh, Ilmu, Hikmah, dan sebagainya), yaitu segala Sifat yang Mulia dan Terpuji.
Alam Lāhūt (عَالَمُ اللَّاهُوتِ)
Makna Bahasa :
Kata Lāhūt berasal dari: إله (Ilāh) = artinya Tuhan.
Lāhūt bermakna: Alam ketuhanan (dalam istilah tasawuf: alam kedekatan kepada Allah, bukan zat Allah yang dicapai makhluk)
Ulama menegaskan: Tidak ada makhluk yang mencapai dzat Allah, yang dimaksud adalah tajalli dan ma‘rifat.
Jadi Makna menurut Ulama Tasawuf
Lāhūt adalah: maqam ma‘rifat, yaitu fana dari ego, dan hadirnya kesadaran hanya kepada Allah
Isyarat Makna haqiqat nya :
Alam Lāhūt adalah:
- puncak kesadaran tauhid
- hati tidak melihat selain Allah
- merasakan ketenangan yang dalam
Dan juga Alam Lāhūt adalah alam yang paling tinggi dalam istilah tasawuf, yaitu alam kedekatan dengan kehadiran Ilahi.
Namun (bukan zat Allah yang dapat dicapai oleh makhluk, tetapi tajalli keagungan-Nya).
Perlu di garis bawahi : Lāhūt bukan berarti makhluk menyatu dengan Allah, tetapi menunjukkan: fana dalam tauhid, hilangnya ego
Dan hadirnya kesadaran hanya kepada Allah.
Dalil Al-Qur’an :
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ
artinya:
"Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Batin."
(QS. Al-Hadid ayat : 3)
Ayat inilah yang dijadikan dalil oleh ulama tasawuf tentang hakikat kedekatan seorang hamba kepada Allah.
Menurut Imam Al-Qusyairi:
Alam Lāhūt adalah : maqam ma‘rifat pada seseorang hamba.
Pada Maqom ini hati tidak lagi melihat selain Allah dan dunia / diri tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Ringkasan Tingkatan Alam
1. Alam Nāsūt (عالم الناسوت)
Adalah alam yang tampak, yaitu alam fisik tempat manusia hidup.
Di dalamnya terdapat tubuh, materi, waktu, dan ruang. Ini adalah alam syariat dan amal.
2. Alam Malakūt (عالم الملكوت)
Adalah alam ghaib yang lebih halus daripada alam fisik.
Di sinilah wilayah para malaikat, ruh, dan hakikat batin dari amal manusia.
3. Alam Jabarūt (عالم الجبروت)
Adalah alam kekuasaan dan cahaya Ilahi.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ini adalah alam makna, kekuatan, dan rahasia ketentuan Allah, lebih tinggi dari alam malaikat biasa.
4. Alam Lāhūt (عالم اللاهوت)
Disebut sebagai tingkatan ketuhanan, yaitu wilayah tajallī sifat-sifat Allah menurut istilah tasawuf.
Bukan berarti Dzat Allah dapat dijangkau makhluk, tetapi menunjuk pada tingkat kedekatan makrifat dan penyaksian hati terhadap keagungan-Nya.
Alam Lahut: Alam Ghoib kebesaran Nur Muhammad, maksudnya Lahut pada Diri kita yang terdiri dari (Batin tempat Sirr "Rahasia", Iman, Tauhid, dan Makrifat).
Mengetahui pembagian alam-alam ciptaan Allah seperti Nāsūt, Malakūt, Jabarūt, dan Lāhūt bukan sekadar pengetahuan teoritis.
Dalam pandangan para ulama dan ahli tasawuf, hal ini memiliki beberapa makna yang dalam:
Manusia sering mengira bahwa yang nyata hanya yang terlihat. Padahal Allah menunjukkan bahwa wujud tidak terbatas pada alam fisik saja. Kesadaran ini membuat hati tidak terlalu terikat pada dunia.
Allah berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya:
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Āli ‘Imrān ayat : 185)
Maknanya: orang yang memahami tingkatan alam akan memandang dunia sebagai tempat singgah, bukan tujuan akhir.
Dengan memahami adanya alam yang lebih halus, hati terdorong untuk merenung tentang kebesaran Allah. Ilmu ini mengajak manusia naik dari pandangan zahir menuju batin, dari makhluk menuju Pencipta.
Sebagaimana perkataan sebagian ulama:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
Artinya: "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya."
Jika seseorang menyadari bahwa amal di alam Nāsūt memiliki hakikat di alam Malakūt, maka ia akan lebih menjaga niat, amal, dan hatinya. Ia sadar bahwa setiap perbuatan memiliki dampak di alam yang tidak terlihat.
Ilmu tentang alam-alam ini mengingatkan bahwa manusia berasal dari alam ruh dan akan kembali kepada Allah. Dunia hanyalah satu fase dari perjalanan yang panjang.
Allah berfirman:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah ayat : 156)
Orang yang memahami hakikat wujud biasanya lebih tenang, tidak mudah sombong, dan tidak terlalu mengejar kemegahan dunia, karena ia melihat bahwa yang kekal hanyalah Allah.
Kesimpulan makna utamanya:
Mengetahui alam-alam ini bukan untuk berdebat atau sekadar menambah istilah, tetapi untuk:
memperdalam iman, membersihkan hati,
dan mendekatkan diri kepada Allah.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa ruh manusia tidak hanya hidup di satu alam saja. Ruh telah melalui beberapa alam sebelum dunia, sedang menjalani ujian di dunia, dan akan melanjutkan perjalanan setelah kematian.
Memahami perjalanan ini membuat hati menjadi lembut, zuhud terhadap dunia, dan rindu kepada Allah.
1. Alam Arwah (Sebelum Alam Nāsūt)
Sebelum manusia lahir ke dunia, ruh telah diciptakan oleh Allah di alam arwah yaitu sebelum diturunkan ke alam Nasut.
Berikut dalilnya :
Allah berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى
Artinya:
"Bukankah Aku Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul."
(QS. Al-A’raf ayat : 172)
Jadi menurut pendapat ulama tasawuf:
Ruh ruh manusia telah mengenal Allah sebelum manusia dilahirkan ke dunia (Alam Nasut)
Dan Kerinduan kepada Allah yang dirasakan oleh manusia di dunia ini adalah sisa sisa dari ingatan ruh terhadap perjanjian takkala itu.
Imam Al-Ghazali menjelaskan:
Mengapa hati manusia selalu mencari Allah..? karena pada asalnya manusia berasal dari alam yang dekat kepada-Nya.
2. Alam Nāsūt (Dunia)
Setelah dari alam Arwah maka manusia berada di alam Nasut, alam ini adalah alam jasad, yaitu tempat ujian.
Pada alam Nasut ini Ruh telah dibungkus oleh jasad,.diberi nafsu, di karuniai akal ,diberi iman dan dihadirkan ke dunia
Dalil
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ
Artinya:
"Dia menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu." (QS. Al-Mulk Ayat : 2)
Jadi maknanya :
Dunia adalah tempat menanam
Akhirat adalah tempat menuai
Terbukanya Alam Malakūt
Ketika seseorang telah membersihkan qolbunya
banyak dzikir , Beribadah dengan ikhlas.dan selalu Menjaga hati untuk muraqobah ,
Maka tabir ghoib mulai akan tersingkap sedikit demi sedikit.
Dalilnya :
كَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
"Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi."
(QS. Al-An’am ayat : 75)
Ulama tasawuf menjelaskan:
Malakūt bukan dilihat dengan mata
tetapi dengan hati yang sudah bersih dari segala sesuatu selain NYA.
Dan tanda seseorang yang sudah mulai menyentuh alam Malakūt maka
hati mudah tersentuh dengan kebenaran
Lebih cinta kepada ibadah
Dan dunia terasa kecil
Menyaksikan alam Jabarūt
(Maqam Tawakal dan Ridha)
Ketika seseorang semakin dalam mengenal Allah, maka ia mulai melihat dan memahami bahwa:
- semua kejadian adalah dari Allah
- Takdir sebagai rahmat dari Allah
- Musibah sebagai pendidikan qolbu
Dalil
قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
Artinya:
"Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan."
(QS. At-Taubah ayat : 51)
Menurut Ibn ‘Athaillah:
Istirahatkan dirimu dari mengatur, karena apa yang telah diatur oleh Allah tidak perlu engkau atur lagi.
Ini adalah cahaya dari alam Jabarūt: melihat kekuasaan Allah dalam setiap segala peristiwa.
Sampai kepada alam Lāhūt (Maqam Ma‘rifat dan Fana)
Pada Maqom alam lahut Ini bukan berarti melihat dzat Allah, karena melihat dzat Allah itu mustahil bagi makhluk.
Yang terjadi adalah:
- Lenyapnya ego.dalam diri
- hadirnya kesadaran hanya kepada Allah
- Merasa hati selalu bersama Allah.
Dalilnya :
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ
"Dia bersama kamu di mana saja kamu berada."
(QS. Al-Hadid ayat : 4)
Menurut Imam Junaid al-Baghdadi:
Fana adalah hilangnya dirimu dari dirimu, dan tetapnya dirimu dengan Allah.
( Setelah Kematian: menuju Alam Barzakh)
Ketika ruh keluar dari jasad maka :
tabir dunia terbuka
alam Malakūt tampak jelas
Dalil
وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"Di hadapan mereka ada alam barzakh sampai hari dibangkitkan."
(QS. Al-Mu’minun ayat : 100)
Ulama tasawuf mengatakan: Kematian bukanlah akhir dari dari satu perjalanan, tetapi hanya perpindahan satu kepada alam lain.
Alam Arwah → mengenal Allah
Alam Nāsūt → Tempat ujian
Alam Malakūt → terbukanya mata hati
Alam Jabarūt → melihat kekuasaan Allah
Alam Lāhūt → ma‘rifat dan fana
Alam Barzakh → awal kehidupan akhirat
Para ulama tasawuf berkata:
Orang yang hanya melihat dunia → sempit hatinya
Orang yang melihat akhirat → luas hatinya
Orang yang mengenal Allah → tenang hatinya
Tanda Seseorang Mulai Berpindah dari Kesadaran Nāsūt ke Malakūt ke jabarut ke lahut
(Menurut Ulama Tasawuf)
Perpindahan dari kesadaran alam Nāsūt (dunia lahir) menuju alam Malakūt (kesadaran ruhani) menuju jabarut (kekuasaan Allah) dan ke alam lahut ( alam ketuhanan)
bukanlah perpindahan tempat, tetapi perubahan cara melihat kehidupan. Jasad tetap di dunia, tetapi hati mulai hidup untuk Allah.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa perubahan ini terjadi secara bertahap.
Pada awalnya seseorang masih hidup di dunia, bekerja, bergaul, dan beraktivitas seperti biasa. Namun di dalam hatinya mulai muncul perasaan:
dunia bukan tujuan
harta bukan kebahagiaan
pujian manusia tidak penting
Dalil
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
Artinya:
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau."
(QS. Al-Hadid ayat : 20)
Menurut Imam Al-Ghazali:
Awal terbukanya hati adalah ketika dunia keluar dari hati, meskipun masih berada di tangan.
Tanda berikutnya adalah hati menjadi lembut.
Orang yang sebelumnya biasa saja, mulai:
menangis ketika mendengar ayat
merasa tenang ketika berdzikir
rindu kepada ibadah
Dalil
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
"Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
(QS. Ar-Ra’d ayat : 28)
Menurut ulama tasawuf: Ini adalah tanda hati mulai tersambung dengan alam Malakūt.
Sebelumnya dosa terasa ringan, tetapi ketika hati mulai hidup:
- maksiat terasa berat
- kesalahan kecil terasa besar
- hati tidak tenang sebelum taubat
Menurut Imam Ibn Qayyim:
Hati yang hidup merasakan dosa seperti luka, sedangkan hati yang mati tidak merasakan apa-apa.
Ini tanda hati mulai peka terhadap cahaya.
- Seseorang mulai merasa Allah melihatnya
- Allah mengetahui isi hatinya
- Malu berbuat dosa meski sendirian
Dalil Hadis (Hadis Jibril)
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
Artinya:
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya."
Ini adalah pintu menuju kesadaran Malakūt.
Tanda besar lainnya:
- tidak suka membicarakan aib orang
- lebih sibuk memperbaiki diri
-mudah mema'afkan kesalahan orang lain.
Menurut Imam Junaid:
Orang yang berjalan menuju Allah melihat dosanya seperti gunung, dan melihat dosa orang lain seperti debu.
Pada tahap ini seseorang mulai merasakan:
Merasakan nikmatnya sholat malam
senang berdzikir sendirian
Rindu berbicara dengan Allah
Bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta.
Menurut ulama tasawuf: Ini tanda hati mulai hidup di alam Malakūt.
Ini tanda yang sangat dalam.
Melihat langit → ingat kebesaran Allah
Dapat musibah → ingat hikmah Allah
Dapat nikmat → ingat rahmat Allah
Dalilnya :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya:
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir."
(QS. Ali Imran ayat : 190)
Ringkasan Tanda-Tanda
Seseorang mulai berpindah dari kesadaran Nāsūt menuju Malakūt ketika:
- Dunia tidak lagi menguasai hati
- Hati lembut dengan dzikir
- Dosa terasa berat
- Muraqabah (merasa diawasi Allah)
- Sibuk memperbaiki diri
- Cinta ibadah dan kesunyian
-Melihat tanda Allah dalam segala sesuatu
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa setiap manusia pada hakikatnya memiliki potensi untuk mengenal Allah. Namun banyak yang tidak sampai, bukan karena tidak mampu, tetapi karena terhalang oleh tabir-tabir hati.
Tabir ini disebut oleh para ulama sebagai hijab.
berikut penjelasan nya :
Ini adalah penghalang terbesar.
Bukan berarti memiliki harta dunia itu salah, tetapi jika mencintainya sampai melupakan Allah itulah yang menjadi hijab.
Dalil
حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ
Artinya:
"Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan."
(Hadis, diriwayatkan dalam makna oleh para ulama)
Allah juga berfirman:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Artinya:
"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia."
(QS. Al-A’la ayat : 16)
Imam Al-Ghazali menjelaskan:
Dunia itu ibarat air laut. Semakin diminum, semakin haus.
Orang yang tenggelam dalam dunia:
sulit khusyuk
berat berdzikir
lalai mengingat akhirat
,
2. Hati yang Kotor oleh Dosa.
Dosa bukan hanya yang tercatat di catatan amal, tetapi juga yang meninggalkan bekas di hati.
Dalilnya :
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم
Artinya:
"Sekali-kali tidak, bahkan hati mereka tertutup oleh apa yang mereka kerjakan."
(QS. Al-Mutaffifin ayat : 14)
Menurut ulama tasawuf:
dosa → titik hitam
banyak dosa → hati gelap
hati gelap → tidak merasakan cahaya
Inilah sebabnya sebagian orang sulit merasakan manisnya ibadah.
Ini hijab yang sangat halus dan berbahaya.
Kesombongan tidak selalu tampak dalam ucapan, tetapi bisa berupa:
merasa lebih baik dari orang lain
sulit menerima nasihat
merasa ilmunya paling benar
Dalilnya :
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong."
(QS. An-Nahl ayat : 23)
Iblis kufur bukan karena tidak mengenal Allah,
tetapi karena sombong.
Ulama tasawuf berkata:
Dosa yang disertai tawadhu lebih dekat kepada ampunan daripada ibadah yang disertai kesombongan.
Ini penyakit yang sangat umum.
Kehidupan terus berjalan seperti biasa
bekerja, makan, berkeluarga , bergaul
Tetapi hati lalai dari mengingat Allah.
Dalilnya :
وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
Artinya:
"Janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai."
(QS. Al-A’raf ayat : 205)
Menurut Imam Ibn ‘Athaillah:
Jangan heran jika hati keras, karena ia jauh dari dzikir.
Lalai adalah hijab yang menutup tanpa terasa.
Ini juga hijab yang sering tidak disadari.
Orang yang sibuk membicarakan kesalahan orang, maka merasa diri lebih baik.
Orang yang selalu mencari aib orang lain,
Maka Hatinya akan sulit bersih.
Menurut para ulama:
Orang yang berjalan kepada Allah sibuk dengan dirinya, bukan dengan orang lain.
Jalan menuju kepada Allah membutuhkan perjuangan riyadhoh dan Mujahadah
Dalilnya :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya:
"Orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan Kami."
(QS. Al-Ankabut ayat : 69)
Tanpa melakukan mujahadah maka
- hati tetap berat untuk beribadah
- ibadah akan terasa malas
- Nafsu tetap menguasai
Ini adalah hijab yang paling halus.
Amalnya banyak, tetapi masih
ingin dipuji, ingin dihormati, ingin dianggap alim.
Menurut ulama tasawuf:
Amal yang tidak ikhlas seperti jasad tanpa ruh.
Ikhlas adalah kunci terbukanya pintu hati.
Wahai para pencari jalan Allah,
yang menghalangi kita bukan jauhnya Allah,
tetapi tebalnya hijab di hati.
Allah tidak pernah jauh, tetapi hati yang jauh.
Dan ketahuilah...
setiap kali engkau bertaubat,
satu hijab akan tersingkap.
Setiap kali engkau berdzikir,
satu cahaya masuk ke dalam hati.
Sumber dari Syekh.H.Haris Al jawi

0 comments:
Catat Ulasan