Perang Jamal
Perang Jamal adalah sebuah pertempuran besar yang terjadi di Basrah pada tahun 36 H. Peristiwa ini bermula ketika Aisyah, Thalhah, dan Zubair berangkat dari Mekkah menuju Basrah. Dalam perjalanan, mereka tiba di suatu tempat bernama Haw’ab. Di sana, anjing-anjing menggonggong, lalu Aisyah berkata: “Kembalikan aku. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Seakan-akan aku melihat salah seorang dari kalian digonggongi anjing-anjing Haw'ab.’”
hlm. 52, 97, 135 (beragam cetakan).
– al-Hakim Naisaburi, jilid 3, hlm. 120–121
→ Hadits ini shahih menurut syarat
Bukhari dan Muslim, namun keduanya
tidak meriwayatkannya.
jilid 6, hlm. 220–223
Namun orang-orang yang bersamanya memberikan kesaksian palsu, mengatakan
bahwa tempat itu bukan Haw'ab. Maka
rombongan pun melanjutkan perjalanan.
Kisah ini diriwayatkan oleh Ahmad bin
Hanbal dan al-Hakim dalam al-Mustadrak.
Setibanya di Basrah, mereka berhasil
menguasai kota dan membunuh sejumlah pendukung Imam Ali bin Abi Thalib (as).
Ketika kabar ini sampai kepada Imam Ali, beliau keluar menemui mereka bukan untuk berperang, melainkan demi melakukan Ishlah (perdamaian).
Saat kedua pasukan berhadapan, Imam Ali memanggil Zubair dan berkata kpdanya:
“Tidakkah engkau ingat sabda Rasulullah SAW kepadamu: ‘Engkau akan memerangi Ali,
danengkau berada di pihak yang zalim’”
Mendengar itu, Zubair menyesal dan
mundur dari medan, tetapi ia kemudian
dibunuh secara licik di perjalanan pulangnya.
Pertempuran pun akhirnya pecah.
Aisyah berada di dalam Tandu (Hawdaj)
di atas seekor unta, dan unta itu menjadi
pusat pertempuran. Pertumpahan darah
semakin hebat di sekitarnya. Ketika Amirul Mukminin Ali melihat bahwa darah tidak akan berhenti selama unta itu masih berdiri, beliau memerintahkan agar unta tersebut dilumpuhkan.
Saat itu, Imam Hasan bin Ali (as)
berkata kepada ayahnya:“Wahai Amirul Mukminin, hal itu akan menjadi bahan ejekan musuh.”
Maka Imam Ali menjawab:
“Selama unta itu berdiri, fitnah akan
tetap hidup. Dan fitnah harus dipadamkan.”
Maksud beliau adalah agar tindakan itu
tidak disalahpahami sebagai balas dendam
atau penghinaan. Ketika unta itu dilumpuhkan
dan tandu jatuh, pertempuran pun berhenti
dan fitnah mereda.Setelah perang usai,
Imam Ali memerintahkan dengan tegas:
“Jangan mengejar yang melarikan diri,
dan jangan membunuh yang terluka.”
Beliau tidak mengambil harta rampasan,
dan mengembalikan Aisyah ke Madinah
dengan penuh penghormatan dan penjagaan.
Dengan demikian berakhirlah Perang Jamal,
dan Ali bin Abi Thalib (as) tetap tampil sebagai teladan keadilan, kesabaran, dan akhlak dalam peperangan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW
“Ali bersama kebenaran,
dan kebenaran bersama Ali.”
Sumber dari FB Mydha Alydrus

0 comments:
Catat Ulasan