PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

 


PERISTIWA PENTING DI BULAN SYA’BAN

Mengenali bulan Sya’ban tanpa mengetahui peristiwa penting yang berlaku di bulan Sya’ban terasa tidak lengkap. Terdapat beberapa peristiwa penting yang berlaku sepanjang bulan Sya’ban. Antaranya ialah malam Nisfu Sya’ban, penukaran arah kiblat, dan peperangan bani Mustaliq.
Peristiwa Sejarah di Bulan Sya’ban dan Beberapa Keistimewaannya
(Disadur dari buku “Maa dza Fii Sya’ban” karya Prof DR Muhammad bin Alwi Al Maliky)
1. Pemindahan Arah Qiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah
Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya (QS Al Baqarah : 144)
“Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
Penantian Rasulullah tidak sia-sia setelah beliau sering menengadahkan wajah beliau ke langit berharap turunnya perintah peralihan arah qiblat, Allah mengabulkan keinginan hati beliau. Berkata Sayidatuna Aisyah r.a. : “Tidaklah aku memperhatikan Robb-mu terkecuali Dia bersegera memenuhi kehendak hatimu.” (HR Bukhori)
2. Bulan Shalawat Nabi
Pada bulan ini Allah menitahkan firman-Nya : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al Ahzab:56)
Karenanya para ulama mengatakan bahwa sholawat adalah ibadah yang paling afdhol karena tidak saja diperintahkan kepada kaum mukmin, namun untuk itu Allah memberikan tauladannya. Banyak keutamaan-keutamaan yang berkaitan dengan Sholawat Nabi ini yang tentunya seorang mukmin tidak akan menyia-nyiakan tibanya Bulan Sya’ban ini dengan memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW.
3. Bulan Al-Qur’an
Berkata Syekh Ibn Rajab Al Hambaly kami meriwayatkan dengan sanad dhoif dari Sahabat Anas r.a. yang berkata, “Jika telah tiba bulan Sya’ban, kaum muslimin (pada masa beliau) menekuni mushaf mereka dan membacanya. Mereka juga mengeluarkan zakat harta mereka sebagai dorongan moril dan materiil terhadap kaum miskin dan papa agar mereka bisa berpuasa di bulan Ramadhan.” Banyak para salaf jika telah tiba bulan Sya’ban mereka meningkatkan pembacaan Al-Qur’an mereka seraya mengatakan, “Ini adalah bulan para pembaca Al Qur’an.”
4. Bulan dimana Taqdir Usia Ditampakkan
Ketika Sayidatuna Aisyah berkomentar tentang bulan Sya’ban yang paling disukai oleh Rasulullah untuk berpuasa. Beliau SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah menentukan di bulan ini setiap jiwa yang akan meninggal di tahun tersebut. Dan aku ingin jikalau ajal menjelang, dalam keadaan berpuasa.” (HR Abu A’la)
5. Bulan Puasa Sunnah
Suatu ketika Rasulullah ditanya : puasa apa yang afdhol setelah puasa Romadhon? “Puasa bulan Sya’ban untuk mengagungkan tibanya Romadhon,” jawab Rasulullah SAW. Dan dari berbagai sumber diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan Sya’ban bahkan terkadang berpuasa satu bulan penuh.
6. Malam Nisyfu Sya’ban
Pada malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini, Allah membentangkan hamparan ampunan dan rahmatnya secara merata. Hingga Dia berkenan mengampunkan para pendosa yang mengharapkan ampunan, mengasihi mereka yang berharap kasih sayang memenuhi permohonan orang-orang yang berdoa. Banyak hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan malam itu. Yang pada intinya mengisyaratkan betapa besar perhatian Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang dicurahkan pada malam tersebut hingga berkenan mengampunkan semua makhluk-Nya terkecuali orang yang musyrik dan orang yang menumbuhkan rasa permusuhan) mengenai status hadits-haditsnya, telah dikupas secara panjang lebar oleh pengarang dalam bukunya tersebut, bisa ditelaah kembali bagi yang berminat). Pada malam tersebut para salaf umumnya menganjurkan keluarga dan murid-muridnya berkumpul untuk berdoa dan menghidupkan malam tersebut dengan berbagai kegiatan yang bernuansa ibadah.
Berdoa di Bulan Sya`ban
Malam Nishfu Sya`ban pada khu­susnya dan bulan Sya`ban pada umumnya merupakan kesempatan yang besar dan waktu yang mulia untuk beribadah. Malam tersebut adalah waktu mulia yang penuh ke­berkahan, ketika seorang muslim harus memperbanyak berbagai ke­baikan dan kebajikan.
Doa termasuk pintu kelapangan yang terpenting dan merupakan kunci kebutuhan, tempat berlindung orang yang tengah dilanda kesulit­an, dan jalan keluar orang yang ter­desak kebutuhan. Allah memerintah­kan hamba-Nya untuk berdoa, "Ber­doalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut." (QS AI-Ghafir: 60).
Rasulullah SAW telah memberi kabar gembira kepada seorang laki-laki yang diberikan kemampuan untuk berdoa bahwa ia termasuk orang yang dirahmati. Rasulullah SAW ber­sabda, "Barang siapa di antara ka­lian dibukakan pintu doa, berarti di­bukakan pula pintu-pintu rahmat. Dan tidak ada permintaan yang lebih disukai Allah kecuali kesehatan." (HR At-Tirmidzi dan AI-Hakim).
Rasulullah SAW juga bersabda, "Doa adalah senjata orang mukmin, pilar-pilar agama, serta cahaya langit dan bumi." Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim; dan ia menyatakan, hadis ini sanadnya shahih.
Rasulullah SAW bersabda, "Mau­kah aku tunjukkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dan musuh dan melancarkan rezeki kalian? Berdoalah kepada Allah siang dan malam. Ka­rena, doa adalah senjata orang muk­min." (HR Abu Yas la).
Dalam hadits lain disebutkan, "Sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Mulia. Dia `rnalu' jika ada sese­orang yang mengangkat tangannya berdoa, lalu ditolak dengan tangan kosong tanpa harapan." Hadits ini di­riwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi (yang menganggapnya hasan), Ibn Majah, dan Ibn Hibban dalam Shahih­nya. Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, ia mengatakan, "Hadits ini shahih de­ngan persyaratan Al-Bukhari dan Muslim."
Rasulullah SAW menjelaskan cara agar doa diterima. Beliau juga mene­gaskan, semua hasil doa itu baik untuk orang yang berdoa, baik diketahui maupun tidak. Artinya, terkadang ia mendapatkan hasilnya segera, dan terkadang ditunda. Rasulullah SAW menjelaskan dengan terperinci dalam sabdanya, "Setiap doa seorang muslim yang tidak mengandung dosa dan me­mutuskan silaturahmi, pasti Allah beri­kan kepadanya salah satu dari tiga hal: disegerakan pengabulannya, ditunda sebagai simpanan di hari kiamat, atau diganti dengan dipalingkan dari ke­burukan yang setara."
Para sahabat bertanya, "Bagai­mana jika kami memperbanyak­nya?" Rasulullah SAW bersabda, "Allah mempunyai lebih banyak lagi.” Hadits tersebut diriwayatkan Ahmad, Al-Bazzar, dan Abu Ya'la.
Rasulullah SAW memberitahu­kan, doa dapat menolak serangan malapetaka dan meringankan ke­tentuan Allah dengan ketentuan-Nya pula.
Nabi SAW juga menjelaskan,agar doa diterima, kita mesti memintanya dengan terus-menerus dan merutinkan berdoa dalam setiap waktu, bukan hanya ketika dalam keadaan sulit. Beliau mengatakan, "Barang siapa ingin dipenuhi permintaannya oleh Allah di saat-saat dalam kesulitan, hendaklah ia banyak berdoa di saat-saat senang." Hadits itu diriwayatkan At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Keduanya mengatakan, hadits tersebut sanadnya shahih, Rasulullah SAW juga bersabda, "Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa yang dipanjatkan dalam keadaan senang." Demikian hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Al-Hakim.
Doa termasuk sebab terkuat untuk menolak hal-hal yang tidak disenangi. la adalah musuh bagi bencana. Doa dapat mencegah turunnya bencana dan dapat menghilangkan atau meri­ngankannya jika bencana telah turun.
Dalam hubungannya dengan ben­cana, ada tiga kedudukan doa: Per­tama, doa lebih kuat daripada bencana, sehingga dapat menolaknya. Kedua, doa lebih lemah daripada musibah, se­hingga seseorang terkena bencana itu, tetapi telah diringankan sekalipun se­dikit. Ketiga, doa dan bencana saling berhadapan, satu sama lain saling men­cegah, tetapi bencana itu tetap ada pengaruhnya.
Mengapa demikian? Adakala­nya, karena doa itu sendiri seperti doa yang tidak disukai Allah, sebab mengandung permusuhan. Mungkin pula karena hati orang yang berdoa itu lemah dan tidak benar-benar menghadap kepada Allah. Seperti busur yang sangat lemah, maka anak panah yang keluar dari busur yang lemah akan lemah pula.
Mungkin pula ada penghalang diterimanya doa, seperti makan sesuatu yang haram. Atau karena lalai dan lupa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Mustadrak, karya Al-Hakim dan hadits Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Berdoa­lah kepada Allah dengan keyakinan akan diterima; dan ketahuilah, Allah tidak menerima doa dan hati yang lalai dan lengah'."
Doa-doa
Nishfu Sya'ban
Di antara siang-malamnya bulan Sya`ban, malam Nishfu Sya`ban, ma-lam pertengahan, yakni tanggal 15, adalah malam yang termulia. Bahkan, dalam setahun, ia dianggap malam ter­mulia setelah Lailatul Qadar. Karena itu, ibadah dan doa di malam Nishfu Sya`­ban lebih utama dibanding malam­-malam lainnya.
Banyak doa yang disusun para ula­ma yang sangat balk untuk dibaca pada malam tersebut. Di antaranya yang akan disampaikan berikut ini.
Di awal waktu sesudah shalat Maghrib, hendaknya kita membaca surah Ya-Sin tiga kali. Pembacaan per­tama, diniatkan mohon dipanjangkan umur dalam berbuat ibadah. Kedua, dengan niat minta dipelihara dan ben­cana, disembuhkan dan penyakit, dan diluaskan rezeki yang halal. Dan ketiga; dengan niat minta kaya hati dan segala makhluk (tidak butuh kepada makhluk) dan memohon husnul khatimah. Setiap selesai membaca surah Ya-Sin dibaca salah satu doa nisfu sya’ban di bawah ini, satu kali. Tetapi bisa juga pelaksanaannya disertai melaksanakan sholat sunnah dua rakaat terlebih dahulu setiap hendak membaca surah Yasin sebanyak tiga kali tersebut. Secara rinci tata caranya akan dijelaskan seperti berikut. Karena ibadah ini adalah sunnah maka pelaksanaannya disesuaikan situasi dan kondisinya, boleh dengan sholat sunnah maupun tanpanya. Baik dengan sholat sunnah membaca pada raka'at pertama setelah al-Fatihah membaca surah al-Kafirun kemudian raka'at kedua setelah al-Fatihah membaca surah al-ikhlas, atau dengan tata cara yang diterangkan di bawah ;
Yang terpenting adalah seperti yang sudah disampaikan diatas pada malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini, Allah ‘azza wa Jalla membentangkan hamparan ampunan dan rahmatnya secara merata, sehingga seyogyannya pada malam tersebut, para salaf shalihin umumnya, sangat menganjurkan keluarga dan murid-muridnya berkumpul bersama, untuk berdoa dan menghidupkan malam tersebut dengan berbagai kegiatan yang bernuansa ibadah.
Amalan Doa Nifsu Sya'ban
Pada malam Selasa 15 Sya'ban 1319 H, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.ra penyusun Maulud Simthud Dhuror berkata kepada Sayid Abdullah bin Abubakar Alatas, putera dari guru utamanya Al-Quthb Ghauts Al-Arifbillah Abu Bakar bin Abdullah Al-Aththas.ra, "Dahulu setiap malam Nishfu Sya'ban, Habib Abubakar mengerjakan salat sunah 6 rakaat. Pada setiap rakaat setelah AI-Fatihah, beliau membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 6 kali. Setiap kali selesai mengerjakan salat dua rakaat beliau membaca fatihah dan Yasin kemudian dilanjutkan dengan doa Nishfu Sya'ban. Aku juga melakukan salat ini dengan cara yang sama." Habib Abdullah berkata, "Aku ingin mengerjakan salat bersamamu." Setelah shof-shof diluruskan, Habih Abdullah bertanya, "Bagaimana niatnya?"
Habib Ali berkata, "Ucapkanlah:
Usholli rok’ataini lillaahi ta’aalaa
Aku niat salat dua rakaat karena Allah Ta'ala.
Namun jika kalian meniatkan sebagai salat Sunah Awwabin akan lebih utama; ushollii rok-ataini min sunnatil awwaabiin lillaahi ta'aalaa.
Pada setiap rakaat setelah Al-Fatihah, membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 6 kali. Setiap kali selesai mengerjakan salat dua rakaat lalu membaca fatihah dan Yasin kemudian dilanjutkan dengan doa Nishfu Sya'ban seperti dibawah ini ;
Habib Ali kemudian mengimami kami. Setelah mengucapkan salam dari dua rakaat pertama beliau menghadap kepada kami, lalu mengucapkan:
Al-Fatihah wa Yaasin biniyyati thuwlil ‘umri ma’al tawfiiqi liththa’ati
Al-Fatihah dan Yasin dengan niat agar Allah memanjangkan umur dan memberi kita taufik hidayah untuk taat kepada-Nya.
Setelah membaca (Fatihah dan Yasin) beliau menuntun kami membaca doa Nishfu Syaban untuk dibaca bersama-sama, diawali basmalah hamdalah dan shalawat yang berbunyi:
Bismillahir-rohmaanir-rahiim. Alhamdulillahir-rabbil-‘alaamin.
Washallalahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wasallam
Allahumma ya dzal-manni wa la yumannu ya dzal-jalali wal­ikram, ya dzath-thauli wal-in’am, lailaha illa anta zhahral-lajina wa jaral-­mustajirina wa ma' manal-kha’ifin. Allahumma in kunta katabtana ‘inda­ka fi ummil-kitabi asyqiya'a au mahrumina au muqtaran 'alaina fir-­rizqi famhullahumma bifadhlika sya­qawatana wa hirmanana wa iqtara ar­zaqina wa atsbitna ‘indaka fi ummil ­kitabi su'ada'a marzuqina muwaffaqi­-na lil-khairat. Fainnaka qulta wa qau­lukal-haqqu fi kitabikal-munzali ‘ala lisani nabiyyikal-mursal, yamhullahu ma yasya'u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul-kitab. Ilahana bit-­tajallil-a`zhami fi lailatin-nishfi min syahri sya’banal-mukarram allati yufraqu fiha kullu amrin hakimin wa yubram nas'aluka an taksyifa 'anna minal-bala’i ma na’lamu wa ma la na’lam, wa ma anta bihi a’lam. Innaka antal-a'azzul-akram. Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi washahbihi wa sallam, wal hamdulillahi rabbil ‘alaamin.
Ya Allah, yang memiliki anugerah dan tidak dianugerahi, yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, yang memiliki karunia dan kenikmatan, tiada Tuhan melainkan Engkau, Engkau-lah tempat berlindung, tempat memohonkan pertolongan, dan tempat aman hagi orang yang ketakutan. Ya Allah, jika telah Engkau tuliskan nasibku dalann Ummul kitab sebagai orang yang sengsara, atau orang yang diharamkan rnendapat kenikmatan, atau orang yang ditolak, atau orang yang disempilkan rezekinya, maka demi kemurahan-Mu, hapuskanlah ya Allah, kesengsaraanku, keterhalanganku dari nikmat, ketertolakkanku, dan kesempitan rezekiku. Kemudian tetapkanlah aku di dalam Urmnul Kitab yang ada di sisi-Mu sebagai orang yang bahagia, rnendapat rezeki cukup, memperoleh taufiq untuk melakukan segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman-Mu lah yang benar, di dalam kitab-Mu yang diturunkan kepada Nabi-Mu yang diutus, yaitu, "Allah (berkuasa untuk) menghapus dan menetapkan yang dikehendaki-Nya, dan di sisi-Nya Ummul kitab". Ya Allah, dengan tajalli-Mu yang Mahu agung pada malam Nisfu Sya'ban yang mulia ini, yang di dalamnya dipisahkan dan dikukuhkan semua persoalan penting, aku mohon agar dihindarkan dari malapetaka yang aku ketahui, atau yang tidak aku ketahui, atau yang lebih Engkau cintai, sesungguhnya Engkau Maha Luhur dan Mulia. Semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, dan segenap puji bagi-Mu ya Allah, Pemelihara sekalian alam.
Beliau lalu memimpin salat dua rakaat lagi. Setelah salam beliau mengucapkan:
al-faatihah wa yaa siin biniyyatil hifzh wal 'ishmati minal aafaat wal 'aahaat, wa biniyyatis sa’ati fiir-rizqi zh-zhahiri wal baathini
Al-Fatihah dan Yasin dengan niat agar Allah melindungi kita dari segala bencana dan penyakit juga dengan niat agar Allah melapangkan rezeki: lahir mapun batin.
Setelah selesai membaca (Fatihah dan Yasin), beliau menuntun kami membaca doa Nishfu Sya'ban lagi. Setelah itu beliau memimpin kami untuk salat dua rakaat lagi yang ketiga. Setelah salam beliau mengucapkan:
al-faatihah wa yaa siin biniyyatil ghinaa`al-qolbi wa husnul khootimah.
Al-Fatihah dan Yasin dengan niat agar Allah menjadikan hati kita kaya dan mengakhiri usia kita husnul khotimah.
Setelah selesai membaca (Fatihah dan Yasin) beliau menuntun kami membaca doa Nishfu Sya'ban.
Selain itu bisa pula dibaca doa yang pendek berikut ini:
Alláhumma innaka `afuwwun karimun tubibbul-'afwa fa’fu anni. AIlahuumma inni as'alukal-afwa wal­ ‘afiyata wal-mu’afátad-da’imata fid­-dini wad-dunya wal-akhirah.
(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Mahamulia, Engkau suka mengampuni. Maka ampunilah aku.Ya Allah, aku mohon ampunan dan afiat, serta perlin­dungan yang tetap dalam urusan agama, dunia, dan akhirat.)
sedangkan para warga NU banyak mengamalkan dengan tata cara sebagai berikut ;
Sya’ban adalah salah satu bulan istimewa, bulan yang dihormati dalam agama Islam, selain Muharram, Dzulhijjah dan Rajab. Lebih utama lagi pada malam ke lima belas, yang dikenal dengan nama malam Nisfu Sya’ban.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Mu‘az bin Jabal Radhiallahu ‘anhu, bahwa pada malam ini “Allah menjenguk datang kepada semua makhlukNya di Malam Nishfu Sya‘ban, maka diampuni segala dosa makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, at-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Begitu juga hadits riwayat Aisyah r.a.
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: « قام رسول الله من الليل يصلي، فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قبض، فلما رأيت ذلك قمت حتى حركت إبهامه فتحرك فرجعت، فلما رفع إلي رأسه من السجود وفرغ من صلاته، قال: يا عائشة أظننت أن النبي قد خاس بك؟، قلت: لا والله يا رسول الله، ولكنني ظننت أنك قبضت لطول سجودك، فقال: أتدرين أي ليلة هذه؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال: هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده في ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين، ويرحم المسترحمين، ويؤخر أهل الحقد كما هم »
Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam dan melakukan shalat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau telah diambil. karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari shalatnya, beliau berkata, “Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira’), apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?”Aku menjawab, “Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Ini adalah malam nisfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya’ban dan mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang hasud sebagaimana perilaku mereka.” (HR Al-Baihaqi)
Begitulah kemurahan Allah swt yang diberikan kepada hambanya di malam Nisfu Sya’ban. Sehingga dalam kesempatan lain Aisyah meriwayatkan hadits lagi dengan banyaknya pengampunan itu semisal bulu kambing Bani Kalb
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: «قال رسول الله : "إن الله ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب"
Sesungguhnya Allah ‘Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nisfu sya’ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing). (HR At-Tabarani dan Ahmad)
Demikianlah hendaknya kesempatan ini tidak disia-siakan. Seorang muslim yang bijak tentunya akan memanfaatkan malam Nisfu Sya’ban sebaik-baiknya, dengan sebaik-baiknya memohon pengampunan dan melaksanakan amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Demikian hadits riwayat Ali bin Abi Thalib menegaskan
عن علي بن أبي طالب قال: «قال رسول الله : "إذا كان ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها إلى سماء الدنيا فيقول ألا من مستغفر فأغفر له ، ألا من مسترزق فأرزقه ألا من مبتلى فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: "Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Amalan Malam Nisfu Sya’ban
Berbagai amalan malam Nisfu Sya’ban dapat dimulai setelah sholat maghrib. Berpegang pada hadits Rasulullah saw, sebaiknya ibadah malam Nisfu Sya’ban ini dilakukan secara individual (tidak berjama’ah). Namun juga tidak ada pelarangan jika dilakukan secara berjama’ah. Dengan didahului shalat sunnah dua rakaat yang niatnya adalah
أصلى سنة نصف شعبان ركعتين لله تعالى
Artinya:
Aku niat shalat sunat nisfu sya’ban 2 rakaat sebagai karena Allah Ta’ala.
Bilangan shalat sunnah Nisfu Sya’ban adalah 2 rakaat dengan 1 kali salam. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun. Sedangkan pada rakaat setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas.
Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali memberikan petunjuk agar dalam setiap rekaatnya setelah membaca fatihah hendaknya membaca surat al-Ikhlas sebelas kali. Atau dapat juga shalat sepuluh rakaat disetiap rakaatnya membaca Fatihah dan membaca al-Ikhlas seratus kali. Shalat ini disebut juga shalat al-khair, hal ini berdasar pada apa yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.
Setelah shalat sunnah dua rekaat biasanya dilanjutkan dengan membaca surat yasin tiga kali yang dan ditutup dengan do’a malam Nisyfu Sya’ban di bawah ini
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَ اَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ . اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِى الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ. اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ اْلبَلاَءِ مَا اَعْلَمُ وَ مَا لا اَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ
Allaahumma yaa dzal-manni wa la yumannu ‘alaika yaa dzal-jalaali wal-ikraam, yaa dzath-thauli wal-inaam, laa ilaaha illaa anta zhahral-ladziina wajaaral-mustajiiriina wa ma’ manal-khaa’ifiin.
Allaahumma in kunta katabtanaa ‘indaka fii ummil-kitaabi asyiqiyaa’a au mahruumiina au muqtarran ‘alaina fir-rizqi fahumllaahumma bifadhlika syaqaawatanaa wa hirmaananaa wa iqtaara arzaaqinaa wa atsbitnaa ‘indaka fii ummil-kitaabi su’adaa’a marzuuqina muwaffaqiina lil-khairaat. Fainnaka qulta waqaulukal-haqqu fii kitaabikal-munzali ‘alaa lisaani nabiyyikal-mursal, yamhullaahu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul-kitaab.
Ilaahana bit-tajallil-a’zhami fii lailatin-nishfi min syahri sya’baanal-mukarram allatii yfraqu fiiha kullu amrin hakiimin wa yubram nas’aluka an taksyifa ‘annaa minal-balaa’i maa na’lamu wa maa laa na’lam, wa maa anta bihi a’lama wa anta 'alamul ghaibi birahmatika yaa arhamar rahimin, wa shalallahu alaa sayyidina Muhammadin wa alaa wa shahbihi wa sallam. amiin.
Artinya:
Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Aamiin.
الله تعالى ورسوله اعلم

( Sumber dari ILMU WEDARING JATI DIRI SANGKAN PARAN DUMADI / SPD )


Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen