“ DIAM "

 


“ DIAM "

Para Arifbillah yang tdk hanya sekadar mengenal tetapi juga mengerti tentang kedudukan / Martabat di sisi Allah, tentu saja mereka itu sudah “Karam / Tenggelam di dlm Lautan “ AHADIYAH " Allah ‘Ta’ala.
Di dalam Ke " Karam " an nya itu pandangannya hanya tertuju n tertumpu kepada Allah sahaja baik di muka, di belakang, di kanan, di kiri, atas, bawah, luar dan dalam.
Setiap waktunya selalu bersama Tuhannya baik di dalam suka maupun duka, baik dalam keramaian maupun dalam kesendiriannya.
Tidak banyak orang lain mengetahui tentang rahasia pd dirinya, walaupun ia senantiasa berkumpul di dalam suatu keramaian tetapi hatinya hanya bersama Tuhannya.
Jiwanya telah merdeka drp segala ikatan-ikatan dunia .... Apakah itu pangkat, kedudukan, harta dan segala atribut-atribut yang lain.
Para pecinta Tuhan telah melepas bebaskan pandangannya , sama ada drp dirinya sendiri maupun kepada yang di luar drp dirinya....
Ia MENYENDIRI di dalam kesendirian diri dan DIAM di dalam Hakikat Tuhannya.
Diceritakan bahawa Nabi Daud as. sedang menyendiri di dalam Mihrab, setelah ia hanyut dalam KESENDIRIAN itu….....
Tuhan berkata :
“ Wahai Daud ! Sedang apakah engkau?”
Daud as :
“Ya Tuhanku sesungguhnya Aku sedang menyendiri dalam kesendirianku”
Tuhan :
“Apa yang engkau lihat hai Daud?”
Daud as :
“Aku pandang akan diriku dalam Musyahadah bahwa tidak ada Daud yang ada hanya
Aku, dan kupandang lagi lebih dalam ‘tidak ada Aku yang ada hanya Engkau ya Robb”
Tuhan :
“ Wahai Daud ! Jika demikian bererti engkau telah “ Murtad " , Murtad drp dirimu sendiri " .
Engkau telah keluar drp dirimu sendiri sehingga tidak ada lagi yang ada pada dirimu,
Dan Engkau nyatakan yang ada hanya “ Aku " , lantaran engkau sudah masuk ke dalam
Ke " DIAM " an " Sir / Rahasia-Ku, dan Engkau telah SAMPAI kepada-Ku " .
Bagi para penuntut / salik yang sdg meniti n berjalan menuju kepada Allah, maka mereka akan melalui beberapa tahapan-tahapan / kedudukan-kedudukan yang mana akhir tahapan itu adalah “ DIAM ”.
“ DIAM " itu adalah suatu Maqam Qadimnya Allah Swt yang mana di sampaikan oleh beberapa Arifbillah dengan Sir / Rahasia /Singgasana Allah Swt.
Dalam sebuah kitab “ Ad-Durrun Nafis”, dikatakan bahwa “ DIAM " itu adalah Maqam yang tinggi iaitu Maqam Tuhan Robbul ‘Alamiin pada Singgasana Allah swt.
Di dalam ke “ DIAM " an itu Hakikat Muhammad S.A.W. bermaqam, dan drp situlah sumber Kalam Allah yang berbunyi : “ Kun ” dan “ Fayakun " .
Setiap para Arifbillah adalah di antara para kekasih dan Pecinta Sejati Allah, yg sudah sampai kepada Maqam ke “ DIAM ” an.
Maqam yang mengangkat Derajat dan Martabatnya kepada “INSAN KAMIL MUKAMMIL "
Berkedudukan sebagai WALI ALLAH ,
Senantiasa tidak pernah alpa drp mengingat Allah baik dalam kesendiriannya maupun dalam keramaiannya.

MAQAM PENGETAHUAN TERTINGGI ADALAH DIAM
Permintaan terberat yang tidak dapat dipenuhi oleh Nabi Musa as manakala bersama Nabi Khaidir adalah diam. Ya berdiam, tanpa komentar, sebelum semuanya jelas dan menjadi terang benderang hikmahnya.
Nabi Musa adalah Nabi bagi Bani Israel; seorang yang paling berilmu di masanya. Sampai-sampai, suatu ketika Nabi Musa as ketika berdakwah dihadapan kaumnya, ada di antara kaumnya yang bertanya:
"Siapakah orang yang paling berilmu saat ini, wahai Musa?!" Riwayat lain menyatakan, "Adakah orang yang terlebih berilmu darimu, wahai Musa?!"
Nabi Musa as dengan tegas menjawab, "Saya lah satu-satunya, orang paling alim, paling berilmu saat ini!"
Tak lama kemudian, Allah Swt menegur nabi Musa as bahwa masih ada yang lebih berilmu, seseorang yang memiliki ilmu Ladunni yang berada di antara dua pertemuan antara air laut dan air tawar. Perjalanan Nabi Musa untuk menemui Nabi Khaidir bukanlah mudah.
Perjalanan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hingga muncullah pertanda ikan yang dibawa menghilang secara misterius di antara dua pertemuan air; yang tanpa disadari oleh Nabi Musa dan seorang pendampingnya yang menurut sebagian mufassir adalah Yusya' bin Nun yang kemudian nantinya diangkat sebagai salah seorang nabi Bani Israel.
Singkat cerita, dimulailah pengembaraan ilmu diantara dua orang Nabi itu dengan beberapa ujian kelayakan bagi Nabi Musa diterima sebagai murid Nabi Khaidir, setelah sebelumnya ada dialektika di antara keduanya dimana Nabi Musa bernegosiasi agar diterima sebagai murid dan Nabi Khaidir semula meragukannya.
Walhasil, akhirnya Nabi Khadir tidak mensyaratkan apa-apa, terkecuali hanya meminta Nabi Musa diam tanpa komentar sebelum semuanya telah dijelaskan secara terang benderang dibalik hikmah dari setiap kejadian.
Nabi Musa sepakat. Dimulailah perjalanan pertama, dimana Khaidir mengajak Musa ke tepi pantai, lalu meminjam perahu milik seorang nelayan miskin. Tanpa sepengetahuan si pemiliknya, setelah usai dipergunakan Khaidr melobanginya hingga perahu itu rusak.
Tentu saja, hal itu membuat Musa terheran-heran dan tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. "Mengapa Anda merusak perahu itu?! Mengapa dan mengapa?"
Masih berlanjut pada kasus selanjutnya dimana Khaidir mencekik leher seorang anak yang sedang bermain-main hingga tewas. Musa makin tidak mengerti karakter guru macam apa yang akan menjadi gurunya itu.
Musa protes dan seakan menghakimi apa yang dilakukan Khaidir adalah kesalahan, bahkan kezhaliman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapa pun, membunuh jiwa yang tak berdosa secara zhalim, apalagi bagi seorang nabi di kalangan Bani Israel.
Musa tak tahan diri untuk berkomentar dan memprotes, hingga terkesan tidak terima dengan kenyataan yang dihadapinya. "Mengapa Anda bunuh jiwa yang tak berdosa?!"
Namun, setiap kali menghadapi pertanyaan dan protes Musa, Khaidir hanya mengingatkan kesepakatan di awal yang harus bisa disepakati. Mau tak mau, Nabi Musa pun harus menerima kenyataan yang di luar nalar dan logika pengetahuannya itu.
Ujian terakhir, yang dilakukan Khaidir ini, ternyata hanya hal yang sangat sederhana, tidak penuh misterius seperti dua kasus peristiwa sebelumnya, yaitu membantu membetulkan dinding yang telah roboh pada sebuah rumah tua yang lama ditinggalkan. Itu saja.
Namun, justru hal ketiga inilah yang merupakan klimak dari pengembaraan itu. Musa tidak mampu untuk tidak berkomentar apa gerangan yang dilakukan oleh lelaki misterius dihadapannya yang telah Allah karuniakan berbagai lautan ilmu hikmah padanya.
Apa jawaban Khaidir pada Musa?
هَذاَ فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ
"Inilah akhir perjumpaan antara diriku dan dirimu.."
Akhirnya, Khadir menyingkapkan semua hikmah dari setiap peristiwa mulai perahu milik nelayan miskin yang dirusak, ternyata hikmahnya adalah penyelamatan dari perampasan raja zhalim yang merampas semua perahu yang masih bagus kondisinya.
Pembunuhan seorang anak itu juga dalam rangka penyelamatan terhadap orang tuanya yang shaleh yang kelak akan menjadi petaka bagi keduanya. Semua merupakan n rahasia dalam ilmu Allah yang hanya diketahui Khaidir.
Pembenahan dan penegakkan dinding yang roboh juga dalam rangka isyarat harta warisan yang terpendam di bawah tanahnya yang ditingggalkan oleh seorang yang shaleh yang telah wafat terhadap anak-anaknya.
Musa yang tidak memahami kedalaman ilmu Khaidir cenderung tidak bisa diam untuk tidak bertanya atau sekedar berkomentar. Kisah ini bukan sekedar kisah pengajaran di dalam al-Qur'an untuk kisah masa lalu, tapi merupakan itibar untuk umat hari ini.
Betapa banyak kita akan temui orang-orang yanh senang berkomentar dan selalu senang mengomentari setiap peristiwa apa pun yang dilihat dan di dengarnya. Seakan komentar itu menunjukkan betapa banyaknya pengetahuannya. Padahal, belum tentu demikian adanya.
Padahal dalam perjalanan maqom keilmuannya selanjutnya, manakala ada orang yang memilih untuk lebih banyak diam, lebih banyak merenung, mengamati dan memperhatikan hikmah dibalik setiap peristiwa dan kejadian yang terjadi di sanalah sesungguhnya puncak ilmu akan diketahui.
Ketika seseorang telah menyadari kelemahan dirinya, maka dia akan terdiam. Manakala seseorang telah terpukau pada keindahan dan keelokan Tuhannya, maka membuatnya akan terdiam. Diam adalah puncak dari pemahaman.

( Sumber dari Bhindhere / TAUHID / ENGGAPAI RIDHO ILAHI )



Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Ulasan