ROBITHAH DALAM AJARAN THORIQAT

 


- HUKUM MENGHADIRKAN ROBITHAH DALAM AJARAN THORIQAT -

Rabithah dalam pengertian bahasa(lughat) artinya bertali, berkait atau berhubungan. Sedangkan dalam pengertian istilah thoriqat, rabithah yakni menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah guru Mursyid Guna mendapatkan wasilah dalam rangka perjalanan menuju Allah. Syaikh Mursyid yakni Khalifah Allah dan Khalifah Rasulullah, Mereka yakni wasilah atau pengantar menuju Allah.
Dasar-dasar utamanya yakni penunjukan yang dilakukan oleh Allah lewat guru mursyid atau petunjuk dari Allah Swt , Karena itu tidak semua orang bisa menjadi guru mursyid. Seorang mursyid yakni seorang yang ruhaninya sudah bertemu Allah dan berpangkat waliyan mursyida, yakni kekasih Allah yang layak menunjuki umat sesuai dengan hidayah Allah yang diterimanya.
Hal ini ibarat dijelaskan dalam surat al Kahfi ayat 17.
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا‎
Artinya :
Dan kau akan melihat matahari dikala terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam daerah yang Luas dalam gua itu. itu yakni sebagian dari gejala (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang menerima petunjuk; dan Barang siapa yang disesatkan-Nya, Maka kau tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang sanggup memberi petunjuk kepadanya. (QS. al Kahfi ayat 17)
Pancaran terang guru mursyid yakni sebagai pembimbing ruhani bagi seorang salik ,di samping itu juga sebagai ketentuan salik yang harus dipatuhi segala perintahnya dan dijauhi segala yang dilarangnya. Dengan demikian seorang murid akan merasa takut manakala meninggalkan perintah agama dan atau melanggar larangan agama, sebab pada waktu itu akan terbayanglah bagaimana marahnya wajah guru mursyid manakala beliau berbuat yang demikian.
Hal yang demikian ini pulalah yang mengakibatkan nabi Yusuf merasa takut dan enggan dikala hendak diajak berzina oleh Siti Zulaikha. Pada waktu itu terbayanglah oleh nabi Yusuf as wajah ayahnya (nabi Ya’kub) atau wajah suami Zulaikha (Qithfir) manakala ayahnya atau suami Zulaikha mengetahui apa yang akan diperbuatnya.
Sebagaimana di jelaskan Allah dalam Al Qur'an :
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ‎
Artinya :
Sesungguhnya perempuan itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan perempuan itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, supaya Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf ayat : 24)
- DASAR DASAR RABITHAH MURSYID
Dasar-dasar aturan yang dipakai sebagai dalil terhadap rabithah yakni firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ‎
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kau dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kau kepada Allah Swt supaya kau beruntung .
(QS. Ali Imran ayat : 200).
Kata warabithu dalam ayat ini yakni diambil arti hakikinya, lebih dalam dari sekedar makna lahiriahnya yaitu mengadakan penjagaan di pos-pos penting dalam situasi peperangan, supaya musuh tidak menerobos. Kalau perang fisik, seseorang menjaga pertahanan wilayah dari serbuan musuh-musuh dari orang kafir, maka dalam perang metafisik, orang mengadakan rabithah di wilayah hati supaya syetan tidak menyusup ke wilayah hati sanubari tersebut. Itulah yang menjadi dasar-dasar rabithah bagi para pakar tawasuf / thoriqat. Menurut mereka rabithah mursyid yakni salah satu memperoleh wasilah menuju Allah.
Firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ‎
Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah / jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihatlah pada jalan-Nya, supaya kau menerima keberuntungan. (QS. al Maidah ayat : 35)
Menurut pendapat ahli thoriqat, mafhum al-wasilah dalam ayat ini bersifat umum. Wasilah sanggup diartikan dengan amal-amal kebajikan Berkumpul dan bergandengan dengan guru mursyid secara lahir atau batin termasuk amal yang baik dan terpuji. Berkumpul dan bergabung itulah oleh kalangan ahli thiriqat disebut dengan rabithah mursyid. Jika diperintah mencari wasilah, maka rabithah yakni wasilah yang terbaik diantara jenis wasilah yang lain.
Firman Allah
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ‎
Katakanlah : kalau kau (benar-benar) menyayangi Allah, ikutilah aku, pasti Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran ayat : 31)
Ayat di atas berdasarkan kalangan thoriqat, arahan kepada rabithah, lantaran “mengikut” فَاتَّبِعُونِي itu menghendaki melihat yang diikuti. Dan melihat yang diikuti ada kalanya melihat tubuhnya secara nyata (konkrit) dan ada kalanya melihatnya secara hayal (abstrak). Melihat dalam hayal itulah yang dimaksud dengan rabithah. Jika tidak demikian, tentu tidak sanggup dinamakan mengikut.
Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ‎
Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Swt dan hendaklah kau bersama orang-orang yang benar.
(QS. at Taubah ayat : 119)
Asy Syekh Ubaidillah Ahrar menafsirkan kebersamaan dengan orang-orang yang benar, yang diperintahkan oleh Allah Swt dalam ayat itu terbagi dua:
· Bersama-sama jasmaniah, yaitu semajelis, sehingga kita mendapatkan keberuntungan dari orang-orang yang shiddiq.
· Bersama-sama maknawi, yaitu bahu-membahu ruhaniah yang diartikan dengan rabithah.
Dalam hadist qudsi Allah SWT berfirman :
Artinya : “Tidak sanggup bumi dan langit-Ku menjangkau/ memuat akan zat-Ku (yang membawa Asma-Ku / Kalimah-Ku), melainkan yang sanggup menjangkaunya / memuatnya ialah Hati Hamba-Ku Yang Mukmin / suci, lunak dan tenang.”
(Hadis Qudsi R. Ahmad dari Wahab bin Munabbih).
Dalam Sebuah Hadist Rasulullah SAW Bersabda :
كُنْ مَعَ الله فَ اِلَى مْتَكُنْ مَعَ الله فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ الله فَ اِنَّهُ يُوْاصِلُكَ اِلَّاَ الله‎
Artinya :
“Jadilah ( Ruhani ) kalian Bersama Allah , Jika ( ruhani ) Kalian Belum Bisa Bersama Allah, Maka Jadilah Kalian Bersama Dengan Orang Yang ( Ruhaninya ) telah Bersama ALLAH, Sesungguhnya Mereka Akan menghantarkan ( Ruhani ) kau Kepada Allah.”
( HR. Abu daud )
Asy Syekh Muhammad Amin al Kurdi menyatakan wajibnya seorang murid terus-menerus me-rabithah-kan ruhaniahnya kepada ruhaniah Syekh gurunya yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah Swt. Karunia yang didapati itu bukanlah karunia dari mursyid, lantaran mursyid tidak memberi bekas. Yang memberi bekas sesungguhnya hanya Allah Swt, lantaran di tangan Allah Swt sajalah seluruh perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi, dan tidak ada yang sanggup berbuat untuk men-tasaruf-kannya kecuali Allah Swt. Hanya saja Allah Swt men-tasaruf-kannya itu, melalui pintu-pintu atau corong-corong yang telah ditetapkan-Nya, antara lain melalui para kekasih-Nya, para wali-wali Allah Swt yang memperlihatkan syafaat dengan izin-Nya
(Amin al Kurdi: 1994, hlm. 448).
Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irdibiy Rhm. mengatakan:
“Sesungguhnya rasa erat dengan Syekh Mursyid bukan dikarenakan erat zatnya, dan bukan pula lantaran mencari sesuatu dari pribadinya, tetapi lantaran mencari hal-hal yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya (kedudukan yang telah dilimpahkan Allah atasnya) dengan mengi’tiqadkan (meyakini) bahwa yang membuat dan yang berbekas hanya semata-mata lantaran Allah Ta’ala ibarat orang faqir bangun di depan pintu orang kaya dengan tujuan meminta sesuatu yang dimilikinya sambil mengi’tiqadkan bahwa yang mengasihi dan memberi nikmat hanya Allah yang mempunyai gudang langit dan bumi, serta tidak ada yang membuat selain dari-Nya. Alasan ia bangun di depan pintu rumah orang kaya itu lantaran ia meyakini bahwa di sana ada salah satu pintu nikmat Allah yang mungkin Allah memperlihatkan nikmat itu melalui lantaran orang kaya itu”.
(Tanwirul Qulub : 527)
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika telah menyesatkan akan kau sesuatu atau ingin minta pertolongan, sedangkan beliau berada di satu bumi yang tidak ada padanya kawan, maka hendaklah beliau berkata: ‘Wahai hamba Allah, tolonglah aku!’ Maka sesungguhnya bagi Allah itu ada hamba-hamba yang tidak sanggup dilihat. Dan sungguh terbuktilah yang demikian itu”.
(HR. Thabrani)
Adapun dalil sunah perihal rabithah antara lain tertera dibawah ini
Hadits Bukhari menyatakan:
أَنَّ اَبَا بَكْرِ الصِّدِّيْق رَضِىَ الله عَنْهُ شكا لِلنَّبِىِّ عَدَمَ انْفِكاَكِهِ. عَنْهُ حَتىَّ فِى الْخَلاَءِ‎
Bahwa Abu Bakar as Shiddik mengadukan halnya kepada Rasulullah Saw bahwa ia tidak pernah lekang (terpisah ruhaninya) dari Nabi Saw hingga ke dalam jamban.
- PENDAPAT PARA IMAM TASAWUF TENTANG RABITHAH
a. Imam Sya’rani dalam Nafahatu Adabidz Dzikri mengatakan, “Dianjurkannya kepada orang banyak supaya mereka mengamalkan etika dzikir yang 20 kasus itu. Dinyatakan etika yang ke-4: hendaklah semenjak permulaan dzikir, himmah syaikhnya terus-menerus berada dalam kalbunya. Ke-5: beliau menganggap bahwa limpahan dari gurunya itu pada hakikatnya yakni pancaran dari Nabi Saw lantaran syaikhlah merupakan wasilah murid dengan Nabi Saw. Dihayalkan rupa guru di depan matanya, inilah maksud rabithah, tidak lebih.
b. Syaikh Tajuddin an Naqsyabandi dalam Risalah-nya, menyatakan bahwa apabila seseorang telah tamat dengan urusan dunianya, maka hendaklah ia mengambil wudhuk, kemudian masuk ke daerah khalwatnya. Sesudah duduk, pertama-tama beliau harus menghadirkan rupa guru.
c. Syaikh Abdul Ghani an Nablusi dalam komentarnya perihal Risalah Syaikh Tajuddin an Naqsyabandi itu menyatakan bahwa itulah cara yang paling sempurna, lantaran syaikh yakni merupakan pintunya ke hadirat Allah dan wasilah kepada-Nya. ibarat Firman Allah dalam surat at Taubah ayat 119 di atas.
Firman Allah dibawah ini memperlihatkan bahwa rabithah mursyid yakni termasuk dzikir kepada Allah Swt yang maha rahman. Dzikir demikian itu bisa mengusir syetan. Bilamana orang enggan melaksanakan demikian, (dzikir dengan rabithah) maka Allah akan menyertakan orang tersebut dengan syetan yang selalu mengarahkan nya kepada jalan yang lurus.
Allah SWT berfirman ;
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ‎
Artinya :
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
(QS. az Zukhruf : 36 – 37)
- TATA CARA RABITHAH
Rabithah artinya ikatan atau berhubungan, yang berarti proses terjadinya kekerabatan atau ikatan ruhaniyah antara seorang murid dengan Guru Mursyidnya. Mengikat atau menghubungkan diri dengan Manajemen Vertikal (Ilahiyah) ibarat yang diungkapkan Al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ‎
“Wahai orang-orang yang mempunyai iman, bersabarlah! jadikanlah kesabaran atasmu, berabithahlah (agar diteguhkan), dan takutlah kepada Allah, mudah-mudahan engkau termasuk orang-orang beruntung”.
(QS. Ali Imran ayat : 200)
Melakukan rabithah mengandung makna menghadirkan/ membayangkan rupa Syekh atau Guru Mursyidnya yang Kamilah di dalam fikiran dikala hendak melaksanakan ibadah, lebih khusus dikala berdzikir kepada Allah Subhana wata’ala.
Menurut beberapa Ulama shufi, berabithah itu lebih utama daripada dzikirnya seorang Salik. Melaksanakan rabithah bagi seorang murid lebih berkhasiat dan lebih pantas daripada dzikirnya, karena Guru itu sebagai mediator dalam wushul ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa bagi seorang murid. Apabila bertambah rasa erat dengan gurunya itu, maka akan semakin bertambah pula kekerabatan batinnya, dan akan segera hingga kepada yang dimaksud, yakni makrifat. Dan seyogyanya bagi seorang murid harus Fana dahulu kepada Guru Mursyidnya, sehingga akan mencapai Fana dengan Allah Ta’ala”.
Menurut Syekh Muhammad bin Abdulah Al-Khani Al-Khalidi dalam kitabnya Al-Bahjatus Saniyyah hal. 43, menghadirkan rabithah itu dapat dilakukan dengan 6 (enam) cara:
1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna.
2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada ruhaniyahnya hingga terjadi sesuatu yang ghaib. Apabila ruhaniyah Mursyid yang dijadikan rabithah itu tidak lenyap, maka murid sanggup menghadapi tragedi yang akan terjadi. Tetapi kalau gambarannya lenyap maka murid harus berafiliasi kembali dengan ruhaniyah Guru, hingga tragedi yang dialami tadi atau tragedi yang sama dengan itu, muncul kembali. Demikianlah dilakukan murid berulang kali hingga ia fana dan menyaksikan tragedi ghaib tanda Kebesaran Allah. Dengan berabithah, Guru Mursyidnya menghubungkannya kepada Allah, dan murid diasuh dan dibimbingnya, meskipun jarak keduanya berjauhan, seorang di barat dan lainnya di timur. Selain itu akan membentenginya dari pikiran-pikiran yang menyesatkan sehingga memicu pintu ruhani yang batil memasuki dirinya (baik ruhani-ruhani ataupun i’tikad-i’tikad yang batil),
3. Menghayalkan rupa Guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di tengah-tengah dahi itu, berdasarkan kalangan ahli Thariqat lebih besar dan berkuasa sanggup menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada Allah Ta’ala.
4. Menghadirkan rupa Guru di tengah-tengah hati.
5. Menghayalkan rupa Guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah hati. Menghadirkan rupa Syekh dalam bentuk keempat ini agak sukar dilakukan, tetapi lebih berkesan dari cara-cara sebelumnya.
6. Menafikan (meniadakan) dirinya dan meng istbatkan (menetapkan) keberadaan Guru. Cara ini lebih besar dan lebih berkuasa menangkis aneka ragam ujian dan gangguan-gangguan.
Demikianlah sekedar pembahasan tentang masalah menghadirkan Robitah dalam ajaran Thoriqat , mudah mudahan dapat menghilangkan segala keragu raguan dan lebih meyakini lagi bahwa dengan menghadirkan Rabithah guru Mursyid segala keinginan perjalanan spiritualnya dapat terwujud hingga whusul kepada Allah

( Sumber dari Haris Haris
THORIQAT NAQSYABANDIYAH )
Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen