Perjalanan Yang Hakiki


 Perjalanan Yang Hakiki

KEPANTASAN YANG HAKIKI ADALAH ENGKAU LIPATKAN JARAK DUNIA DARI KAMU SEHINGGA ENGKAU MELIHAT AKHIRAT LEBIH DEKAT KEPADA KAMU DARI DIRI KAMU SENDIRI.

Kepantasan perjalanan yang dimaksudkan oleh Hikmat 97 ini bukanlah kepantasan perjalanan tubuh badan. Memang ada orang yang boleh bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain di atas muka bumi ini dalam sekelip mata saja. Perjalanan yang demikian dipanggil „terlipatnya bumi.‟ Kebanyakan orang cenderung untuk memiliki ilmu melipat bumi ini karena menyangka kebolehan yang demikian menjadi tanda kewalian seseorang. Perlu diingatkan bahwa kebolehan yang demikian dimiliki juga oleh iblis sedangkan iblis adalah musuh Tuhan, bukan wali-Nya. Jika berpegang kepada Sunah Rasulullah s.a.w keramat zahir tidak dipentingkan. Rasulullah s.a.w sendiri sewaktu berhijrah dari Makkah ke Madinah menggunakan kelajuan manusia biasa, tidak kepantasan lipat bumi, padahal Rasulullah s.a.w adalah manusia yang paling keramat, ketua sekalian wali. Rasulullah s.a.w menggunakan jalan cermat, perlahan dan sukar, sesuai dengan sifat semulai jadi manusia. Perbuatan Rasulullah s.a.w menunjukkan bahwa kesabaran menghadapi perjalanan yang sukar itulah yang sebenarnya kekeramatan, bukan perjalanan sepantas kilat.
Kepantasan hakiki yang mampu melipat jarak dunia bukanlah kepantasan tubuh badan bergerak dalam dunia. Ia adalah perjalanan kerohanian ketika bertemu sesuatu dan menghadapi sebarang kejadian. Ke manakah kerohaniannya pergi ketika itu? Orang yang memperturutkan pandangan nafsunya, tempat jatuhnya adalah zahirnya alam dan sebab musabab. Tetapi, orang yang melihat dengan pandangan hatinya akan melihat kepada batinnya alam. Dia melihat ketuhanan dalam segala sesuatu. Sebaik saja dia berhadapan dengan sesuatu perkara sertamerta pandangan hatinya tertuju kepada Allah s.w.t yang menerbitkan segala perkara, hinggakan tidak sempat memerhatikan benda-benda alam dan hukum sebab musabab.
Pandangan hati yang segera memerhatikan Allah s.w.t dalam segala perkara itu dinamakan kepantasan hakiki. Tipu daya dunia tidak sempat menyambar perhatian hatinya. Ego dirinya juga tidak sempat bertunas. Perhatiannya tertuju kepada keabadian, tidak kepada dunia dan dirinya yang bersifat sementara. Kurniaan Allah s.w.t yang menyelamatkan hamba-Nya dari tarikan dunia dan ego dirinya adalah kekeramatan yang sebenar. Rohaninya mempunyai kepantasan hakiki untuk melepasi ruang dunia dalam sekelip mata lalu menyaksikan keabadian, hingga terasalah olehnya akhirat yang kekal abadi itu lebih hampir dengan dirinya sendiri. Beginilah keadaan orang arifbillah

Share on Google Plus

About roslanTv Tarekat

Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis autem vel eum iriure dolor in hendrerit in vulputate velit esse molestie consequat, vel illum dolore eu feugiat nulla facilisis at vero eros et accumsan et iusto odio dignissim qui blandit praesent luptatum zzril delenit augue duis.

0 comments:

Catat Komen