MANA YANG HARUS LEBIH DIMULIAKAN ORANG TUA ATAU MURSYID ?
Menurut keterangan yang saya temukan, ada sebagian orang atau murid thoriqoh yang sering kali terjebak dalam kekeliruan saat menyeimbangkan rasa hormat kepada guru, ustad, kiayi, ulama, mursyid dan orang tua kandung.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menomorduakan orang tua demi mereka salah satunya demi mursyid, atau sebaliknya, tidak menempatkan keduanya pada porsi hakiki yang sudah diatur dalam agama Islam.
Sebagian murid thoriqoh, dirinya merasa harus lebih memuliakan, menghormati dan harus patuh total kepada mursyidnya hingga mengabaikan kewajiban berbakti kepada orang tua kandungnya sendiri.
Kadang kepada orang tuanya berani berbuat tidak baik seperti berjalan tidak sopan, menyuruh, melawan atau membentak sedangkan kepada mursyid selalu sopan, taat dan patuh. Bahkan ada juga yang tetap pergi berkhidmat, manaqib atau berkhalwat meski orang tuanya sedang sakit atau sedang membutuhkan bantuan anaknya.
Padahal kedudukan antara orang tua kandung atau orang tua jasad dan mursyid asli kamil mukamil atau orang tua ruhani sama-sama mulia dan memiliki dimensi keutamaan yang berbeda, sehingga para ulama ahli hakikat, tasawuf dan thoriqoh tidak membenturkannya sebagai persaingan, melainkan sebuah kesatuan yang saling melengkapi.
Mursyid agung thoriqoh qodiriyah naqshabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya atau Tqn Pp Suryalaya yang mulia syekh Ahmad Shohibulwafa tajul Arifin atau pangersa Abah Anom, beliau tidak pernah membenturkan atau memisahkan kedudukan antara orang tua kandung dan mursyid, karena keduanya sama-sama penting dan wajib dimuliakan, namun memiliki wilayah dan peran mulia yang saling menyempurnakan.
Dalam ajaran thoriqoh yang diamalkan di pesantren suryalaya, seorang murid atau ikhwan akhwat Tqn Pp Suryalaya diajarkan untuk memahami asal-usul dirinya secara utuh :
Orang Tua Kandung : Mereka adalah perantara lahirnya jasad atau fisik kita ke dunia. Tanpa pengorbanan, perjuangan, kasih sayang, dan cucuran keringat orang tua, kita tidak akan pernah ada di dunia ini. Oleh karena itu, birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah kewajiban mutlak dalam Islam.
Guru Mursyid : Beliau adalah bapak bagi ruh dan spiritual kita. Mursyid bertugas menuntun ruhani murid agar selamat, keluar dari kegelapan nafsu, mengobati penyakit hati agar bisa sampai atau wushul mengenal Alloh SWT.
Yang mulia Pangersa Abah Anom sangat menekankan akhlak mulia atau akhlakul karimah. Beliau selalu berpesan agar para ikhwan akhwat Tqn Pp Suryalaya menjadi anak yang berbakti.
Jika orang tua kandung membutuhkan bantuan fisik, nafkah, perawatan terutama di masa tua, atau kehadiran kita, maka anak kewajiban merawat mereka adalah yang utama.
Ridha Alloh terletak pada ridho orang tua. Mursyid yang sejati tidak akan ridho jika ada muridnya yang menelantarkan orang tua kandung demi berdiam di pesantren.
Dalam urusan bimbingan ruhani dan makrifat, Ikuti mursyid asli. Orang tua kandung memberikan kita kehidupan dunia, sedangkan Mursyid asli membimbing kita menuju kehidupan akhirat yang abadi. Mursyid lebih utama dalam hal pembentukan ketakwaan, karena mereka menyelamatkan jiwa dari api neraka.
Namun keduanya tidak untuk dipertandingkan mana yang lebih penting. Keduanya sama sama penting, karena keduanya adalah dua sayap yang menerbangkan seorang mukmin menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Dalam kitab Kifayatul Atqiya, yang mulia Syekh Abu Bakar Syatha mengutip pandangan ulama yang menyatakan bahwa hak seorang guru spiritual atau mursyid secara derajat ruhani itu lebih besar daripada orang tua kandung, karena guru menyelamatkan murid dari api neraka menuju surga, sedangkan orang tua menyelamatkan anak dari kelaparan dan bahaya dunia.
Ketaatan, Penghormatan dan memuliakan Orang Tua dalam
Al-Qur'an dan Hadis menempatkan berbakti kepada orang tua pada posisi yang sangat tinggi, bahkan digandengkan langsung setelah tauhid:
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya".(QS. Al-Isra': 23)
Dalam hadis riwayat yang mulia imam Bukhari & Muslim: Ketika yang mulia baginda Rosululloh Saw ditanya amalan apa yang paling dicintai Alloh, beliau menjawab : Shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada kedua orang tua, kemudian jihad di jalan Alloh."
Dalam Al-Quran dan hadist juga disebutkan cara memuliakan ulama, guru atau mursyid asli. Penghormatan kepada mursyid asli didasarkan pada posisi mereka sebagai pewaris sejati para nabi yang membimbing umat manusia ke jalan Alloh:
"Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama".(QS. Fatir: 28)
Dalam hadis riwayat yang mulia Ahmad & At-Tirmidzi, yang mulia Baginda Rosululloh Saw bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengerti hak ulama kami".
Yang mulia imam Ahmad bin Hanbal, beliau menyatakan bahwa ada tiga orang yang berstatus sebagai orang tua yang wajib dihormati diantaranya : Orang tua kandung yang melahirkan, mertua yang menikahkan anaknya kepada kita, dan guru yang mengajarkan ilmu serta mengenalkan kita kepada Alloh.
Bahkan yang mulia imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, beliau menegaskan bahwa hak guru spiritual lebih besar daripada hak orang tua. Beliau menjelaskan bahwa orang tua adalah sebab eksistensi manusia di dunia yang fana, sedangkan guru spiritual adalah sebab manusia mendapatkan kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Para ulama menegaskan bahwa seorang mursyid yang sejati atau mursyid asli tidak akan pernah menyuruh muridnya untuk durhaka, atau menelantarkan orang tuanya. Mursyid asli kamil mukamil akan mendidik muridnya agar menjadi anak yang jauh lebih berbakti kepada orang tuanya.
Mursyid asli kamil mukamil mendidik muridnya semata-mata karena Alloh dan untuk keselamatan akhirat sang murid, bukan karena nafsu atau demi keuntungan pribadi, gengsi, pujian dan amarah.
Setiap perintah, larangan dan arahan Mursyid asli didasarkan pada bashiroh atau mata hati dan tidak keluar dari tuntunan Al-quran dan As-Sunnah atau syariat untuk mengikis penyakit hati sang murid.
Sedangkan perintah dan larangan orang tua adakalanya disertai nafsu. Orang tua adalah manusia biasa yang tidak ma'shum atau tidak bebas dari dosa dan kesalahan, dan umumnya belum tentu mencapai tingkatan kesucian jiwa seorang mursyid.
Kadang kala perintah, larangan, atau kemarahan orang tua bercampur dengan emosi, kelelahan, ego, rasa khawatir yang berlebihan, atau gengsi sosial bahkan dibarengi dengan dusta
Dari sisi dunia dan syariat jasmani, orang tua harus didahulukan dalam hal ketaatan materi dan nafkah. Dari sisi akhirat dan rohani, sebagian ulama tasawuf menyebut hak Mursyid sangat agung karena kehidupan ruh jauh lebih kekal daripada kehidupan jasad.
Sebagai orang yang lagi belajar thoriqoh terkhusus bagi Ikhwan akhwat Tqn Pp Suryalaya, jangan pernah membenturkan keridhoan keduanya. ingatlah kaidah ini :
"Tanpa orang tua kandung, jasad kita tidak akan ada di dunia, dan tanpa mursyid asli ruhani kita tidak akan bermakna di hadapan Alloh".
Cara terbaik adalah memuliakan keduanya dalam posisi yang benar. Memuliakan mursyid asli sendiri adalah dengan cara kita menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orang tua kandung sendiri.
Kejarlah ridho orang tua untuk keberkahan hidup di dunia, dan ikutilah bimbingan mursyid asli untuk keselamatan dan kebahagian di akhirat. Seorang mursyid asli kamil mukamil justru akan selalu mendidik muridnya untuk menjadi anak yang paling berbakti kepada orang tuanya.
Sumber dari Wa Buyung Ghm

0 comments:
Catat Ulasan